Pemuda Mesjid Miftahul Jannah

Selamat Datang Di Blog Pemuda Mesjid Miftahul Jannah - Komplek Manglayang Regency Blok I - Bandung Jawa Barat

Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ilmu Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 April 2015

Jadwal Manaqib - PP SURYALAYA

Jadwal Manaqib


Nomor
Tanggal
Jam
Tempat
1.  Sabtu
03-01-2015
06:00
/ 12 Rabiul Awal 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : Ust. M. Sirojuddin Ruyani
Khidmat Ilmiah : KH. Zezen Zaenal Abidin Bazul Asyhab
2.  Minggu
01-02-2015
06:00
/ 11 Rabiul Akhir 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : Drs. H. Nur M. Suharto
Khidmat Ilmiah : Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, MA.
3.  Senin
02-03-2015
06:00
/ 11 Jumadil Awal 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Muhammad Ali Bin Haji Ali, Phd
Khidmat Ilmiah : Hj. Ali Bin Hj. Mohammed
4.  Rabu
01-04-2015
06:00
/ 11 Jumadil Akhir 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. A. Muzakki A., S.Ag.
Khidmat Ilmiah : KH. Moch. Ali Hanafiah Akbar
5.  Sabtu
30-04-2015
06:00
/ 11 Rajab 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Toras Zainuddin Nasution, Lc.
Khidmat Ilmiah : KH. Wahfiudin, MBA.
6.  Sabtu
30-05-2015
06:00
/ 12 Sya'ban 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Aang Abdullah Zein, S.Pd.I
Khidmat Ilmiah : KH. Achmad Zuhri
7.  Minggu
28-06-2015
06:00
/ 11 Ramadhan 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : Drs. H. Dadi Hermawan
Khidmat Ilmiah : Drs. KH. Sandisi
8.  Senin
27-07-2015
06:00
/ 11 Syawal 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : KH. Thohir Abdul Qohir
Khidmat Ilmiah : KH. Beben Muhammad Dabbas
9.  Rabu
26-08-2015
06:00
/ 11 Dzulqo'dah 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Uu Sanusi
Khidmat Ilmiah : H. Ahmad Athorid Siraj
10.  Sabtu
26-09-2015
06:00
/ 12 Dzulhijah 1436 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Asep Syamsurizal Hudaya, S.Ag. M.Si.
Khidmat Ilmiah : Drs. KH. Arief Ichwanie AS.
11.  Sabtu
24-10-2015
06:00
/ 11 Muharram 1437 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh :Ust. Aep Saefudin
Khidmat Ilmiah : Abd. Manaf Bin Abidallah
12.  Senin
23-11-2015
06:00
/ 11 Shafar 1437 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : KH. Misbahul Munir
Khidmat Ilmiah : Hj. Mohd. Zuki As Syuja'
13.  Rabu
23-12-2015
06:00
/ 11 Rabiul Awwal 1437 H
Pondok Pesantren Suryalaya - Mesjid Nurul Asror
Kuliah Subuh : H. Toras Zainuddin Nasution, Lc.
Khidmat Ilmiah : KH. Zezen Zaenal Abidin Bazul Asyhab


  • Jadwal Manaqib

 

TANBIH BAHASA INDONESA - PP SURYALAYA



TANBIH BAHASA INDONESA



TANBIH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim


Tanbih ini dari Syaekhuna Almarhum Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.

Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun wanita, tua maupun muda :

Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Allah Subhanahu Wata'ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.

Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya, supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur, dhohir maupun bathin.

TANBIH BAHASA SUNDA - PP SURYALAYA

TANBIH BAHASA SUNDA 




TANBIH BAHASA SUNDA

TANBIH

bismillaahir rohmaanir rohiim

Ieu pangeling-ngeling ti Pangersa Guru almarhum Syekh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad r.a, panglinggihan di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.

Dawuhanana: Khusus kangge kasadaya murid-murid, pameget, istri, sepuh anom, muga-muga sing ginanjar kawilujeungan, masing-masing rahayu sapapanjangna, ulah aya kabengkahan jeung sadayana.

BACAAN TAWASUL PP SURYALAYA

BACAAN TAWASUL PP SURYALAYA







TAWASUL

bismillaahir rohmaanir rohiim

ilaa hadlrotin nabiyyil mushthofaa muhammading shollalloohhu 'alaihhi wa sallama wa 'alaa aalihhii wa ashhaabihhii wa azwaajihhii wa dzurriyyaatihhii wa limang dakhola fii baitihhil kiroomi ajma'iina syai-ul lillaahhi lahhumul faatihah.

Terapi Penyembuhan Kecanduan Narkoba Ala Islam

Terapi Penyembuhan Kecanduan Narkoba Ala Islam


Siapa saja tidak membedakan umur maupun golongan bisa terjebak dalam dalam situasi ketergantungan obat-obat terlarang. Berbagai metode ditawarkan untuk  menyembuhkan korban ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang.

Salah satu yang dipraktikkan di Indonesia melalui pendekatan cara-cara Islam. Seperti yang ada di Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Cara inipun dinilai berhasil menghentikan si korban dari ketergantungannya secara tuntas.

Melalui pendekatan ibadah seperti yang diajarkan dalam Islam, pecandu narkoba dalam penyembuhannya diajak selalu dekat dengan Allah, baik melalui ibadah shalat wajib maupun shalat sunnah.

''Dari sekian banyak metode penyembuhan bagi para pecandu narkoba, metode yang dijalankan di Ponpes Suryalaya cukup sukses,'' tutur Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri saat kunjungan kerja di Ponpes Suryalaya, Kamis (1/3). Hal ini sudah dibuktikan dari peserta yang mengaku sembuh setelah menjalani metode ala Islam disini.

Salim menegaskan tentu saja keberhasilan ini bisa menjadi pelajaran bagi semua pihak yang terkait dengan pecandu narkoba.''Saya rasa metode di Ponpes Suryalaya ini nantinya diharapkan bisa direalisasikan di ponpes lainnya,'' kata dia.

                                                                   
                                                                ***

Seorang pecandu narkoba, Putri mengaku sudah kecanduan narkoba selama 14 tahun. Remaja putri asal Jakarta inipun mengaku sudah keluar masuk panti rehabilitasi keluarga di dalam maupun luar negeri. Namun keberhasilan dia meninggalkan narkoba baru diraih sejak ia mengikuti penyembuhan di Pesantren Suryalaya.

Untuk menangani pecandu narkoba dan rehabilitasi narkoba tertua di Indonesia, Kementerian Sosial sudah menjalani kerja sama dengan Ponpes Suryalaya sejak tahun 1980.''Kerja sama ini akan terus dipertahankan dalam mengatasi permasalahan ini,'' tutur dia. Jika karakter dan budi pekerti tidak ada akibat bahaya narkoba maka akan hancur bangsa ini.

Namun di sisi lain, Salim mengingatkan bahwa orang tua harus ikut mengawasi keseharian anak-anak mereka.''Meskipuan di rumah pergaulannya baik tetap bisa terpengaruh lingkungan yang tidak baik. Karena itu semua pihak harus ikut menjaga,'' kata dia. Orang tua harus memahami dengan siapa anak-anak berteman karena bisa saja teman mereka menjerumuskan anak mereka dalam obat-obatan terlarang.

Di samping juga perlu adanya penegakan hukum atau law enforcement yang kuat. Yaitu dengan berani menjatuhkan hukuman mati terutama bagi pengedar. ''Seluruh komponen harus bisa bergerak untuk menangani permasalahan ini,'' tutur Salim.

Dalam kesempatan ini Kementrian Sosial juga memberikan bantuan dana sebesar Rp 82,125 juta untuk asistensi khususnya rehabilitasi narkoba di Ponpes Suryalaya. Dan bantuan sebesar Rp 25 juta lainnya untuk dana operasional.

                                                                 ***

Sesepuh Ponpes Suryalaya dan juga cucu dari Kiai Haji Abdullah Mubarok (Abah Anom), KH Zainal Abidin,  menjelaskan bahwa penyembuhan narkoba di Suryalaya adalah upaya pembetulan pikiran dengan cara-cara Islam. Yang dibetulkan di sini, kata dia,  adalah cipta melalui akidah, rasa melalui akhlak dan perbuatan melalui syariat.

''Salah satu metode yang dilakukan adalah dengan pensucian melalui mandi. Mandi adalah pencuci hadas besar yang paling manjur,'' kata Zainal. Begitu ketagihan langsung dimandikan lalu menjalankan ibadah shalat dan zikir

Metode yang diterapkan di pusat rehabilitas narkona Suryalaya dijalankan minimal selama tiga bulan dan melalui tiga tahap. Yaitu penyembuhan, rehabilitasi, dan bina lanjut. Sebelum menjalani rangkaian penyembuhan,  si pecandu dimandikan pada pukul 02.00 WIB. Setelah mandi, metode yang dilakukan adalah pelaksanaan ibadah terus menerus sampai pukul 21.00 WIB.

Tahapan yang dilakukan diantaranya menjalankan seluruh shalat wajib, shalat sunat sebelum dan sesudah shalat wajib, shalat sunnat khusus seperti taubat, awabin, birrulwalidaini dan lihifdhil iman.

Saat ini Ponpes Suryalaya yang juga menjalankan fungsi pendidikan umum layaknya ponpes lainnya memiliki 24 pusat reahabilitasi yang disebut rumah remaja Inaba. Dua diantaranya khusus bagi perempuan. Dan dua diantaranya berada di luar Tasikmalaya, yaitu di Keddah Malaysia dan di Cibereum Jabar. Setiap inaba untuk laki-laki berisi sekitar 30 orang yang direhabilitasi. Sedangkan untuk perempuan berisi sekitar 10-15 orang. Setiap inaba dibina oleh lima pembina ibadah dari Ponpes Suryalaya.


 Source: republika.co.id

AMALAN HARIAN TQN SURYALAYA


AMALAN HARIAN TQN SURYALAYA

AMALAN SEKITAR JAM 02.00 DINI HARI

1) Mandi Taubat
2) Sholat Syukrul Wudlu 2 roka'at (setelah berwudlu sebelum kering anggota wudlu).
3) Sholat Tahiyyatal Masjid
2 roka'at.
4) Sholat Taubat 2 roka'at.
5) Sholat Hajat 2 roka'at.
6) Sholat Tahajjud 6 roka'at.
7) Sholat Tasbih 4 roka'at.
8) Sholat Witir 3 roka'at.
9) Dzikir Jahar

Kamis, 09 April 2015

Belajar Ma'rifat

"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kalian yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kalian, dan mengajarkan kepada kalian kitab dan hikmah, serta mengajarkan apa yang kalian belum ketahui". 
(QS al-Baqarah [2] 151).
Dalam ontologi keilmuan Islam, ilmu dan makrifat mempunyai persamaan dan perbedaan. Persama-annya, keduanya sama-sama sebagai pengetahuan yang diperlukan manusia guna memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan. Perbedaannya, dari segi ontologi, ilmu adalah pengetahuan yang berada dalam lingkup dan domain manusia tanpa harus melibatkan unsur-unsur asing dari luar diri manusia. Logika manusia cukup untuk memahami objek ilmu.
Sedangkan makrifat adalah pengetahuan yang secara umum berada di luar lingkup dan domain manusia. Keberadaannya ditentukan kemampuan manusia mengakses unsur-unsur luar dirinya, dalam hal ini Tuhan. Secara epis-timologis, ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui hasil olah nalar dan logika manusia. Sementara itu, makrifat adalah pengetahuan yang diperoleh melalui hasil olah batin dan spiritual manusia.
Orang yang mengusai ilmu disebut alim dan orang yang menguasai makrifat disebut arif. Hanya sedikit menjadi rancu ketika kata "tim dam marifah diindonesiakan menjadi ilmu dan makrifat. Ini sudah mengalami reduksi dan penyederhanaan makna. Secara aksiologis, ilmu bertujuan memberi kejelasan dan kemudahan manusia di dalam menjalani kehidupannya.
Makrifat, lebih berusaha untuk memberikan kepuasan intelektual dan spiritual yang pada akhirnya akan menghadirkan rasa tenang dan damai secara konstruktif ke dalam diri manusia. Metodologi keilmuan umumnya berangkat dari sikap keraguan terhadap satu fenomena atau informasi.
Dari sikap ini, lahirlah upaya untuk memahami dan mendalami dalam bentuk studi yang melibatkan parameter keilmuan logika. Seperti melakukan observasi atau survei dan penelitian mendalam lainnya sebagai pengujian kembali terhadap konsep dan teori yang dihasilkan oleh parameter tersebut.
Setelah itu harus ada keberanian intelektual si penelitinya untuk memublikasikan kesimpulan hasil-hasil studinya secara terbuka kepada publik. Sepanjang belum ada yang keberatan dan menolak (tentu saja setelah melalui studi yang selevel), sepan-jang itu pula diakui sebagai sebuah kebenaran yang dapat diyakini.
Jika ternyata di kemudian hari ada yang mematahkan logika dan temuan itu, bisa menjadi tanda berakhirnya konsep dan teori itu. Metodologi kemakrifatan sama sekali berbeda (untuk tidak mengatakan bertolak belakang) dengan metodologi keilmuan. Sebab, umumnya metode ini berangkat dari rasa dan sikap yakin terhadap suatu objek yang mengandung misteri.
Berangkat dari keyakinan itu, tugas pertama yang harus dilakukan guru atau mursyid adalah melakukan proses pembersihan diri para murid dari berbagai keraguan. Proses ini biasa disebut pembersihan jiwa (tadzkiyah al-nafs) atau penghalusan kalbu (tahdzib al-qulub). Proses ini digambarkan dalam surah al-Baqarah ayat 151 di atas.
Itu menjelaskan bahwa sebelum dilakukan proses pendidikan dan pengajaran atau taklim, terlebih dahulu dilakukan proses pembersihan diri. Selain ayat tersebut, masih banyak lagi ayat dan hadis, serta perkataan sahabat yang mengisyaratkan metode mendapatkan makrifat. Kisah antara Nabi Musa as. dan Nabi Khidir as. di dalam surah al-Kahfi juga relevan dengan pembahasan ini.
Bagaimana Nabi Musa as. yang dikenal sebagai nabi ulul azmi masih harus belajar kepada hamba Tuhan yang tidak populer di dunia publik. Persyaratan menjadi murid juga lebih unik dibanding dengan metode keilmuan biasa, yaitu, "...Janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku menerangkan kepadamu." (QS al-Kahfi [18] 70).
Lebih unik lagi, sang guru mencontohkan sesuatu yang sama sekali di luar kemampuan logika untuk memahaminya, yaitu membocorkan perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil tak berdosa, dan memugar reruntuhan bangunan tua. Namun, ending dari cerita ini ialah Nabi Musa mendapatkan kearifan bahwa di atas langit masih ada langit. Ilmu Tuhan itu mahaluas.
Dari situ, kita pun mendapatkan hikmah bahwa manusia utama dan pilihan Tuhan tidak mesti harus populer, bahkan tidak mesti menjadi nabi. Rasulullah memberikan contoh bagaimana mempelajari makrifat dengan mengedepankan keikhlasan dan kedekatan diri terus-menerus kepada Allah SWT. Sahabatnya juga demikian.
Sayydina Ali in Abi Thalib karamallohuwajha pernah membuat pernyataan "Barang siapa mengajariku satu huruf, aku rela menjadi budaknya". Generasi berikutnya, seperti Imam Bukhari, setiap kali akan menerima sebuah hadis terlebih dahulu ia shalat dua rakaat. Kitab Al-Talim wal Mu-taallim, yang mengajarkan sopan santun guru dan murid, masih dipegang teguh di sejumlah besar pondok pesantren.
Dalam tradisi intelektual Islam, tidak tampak perbedaan tajam antara metode memperoleh ih iu dan makrifat, bahkan keduanya sering digunakan bergantian {inter-changable). Dalam tradisi pondok pesantren, cara memperoleh ilmu masih tetap dominan mengakomodasi metodologi makrifat yang menuntut kepasrahan dan ketawadhuan santri kepada kiai atau gurunya.
Oleh karena itu, mungkin ilmuan pesantren menganggap pola pembidangan ilmu dan makrifat di atas dianggap terlalu ske-matis. Namun, pembahasan ini sekaligus juga untuk memberi masukan terhadap dunia pendidikan kita yang kini sedang disorot banyak kalangan. Ternyata tingginya ilmu pengetahuan yang dicapai seseorang tidak berbanding lurus dengan akhlaknya.
Sudah tentu, di situ ada yang salah. Setidaknya, mata rantai penyucian diri (tadzkiyah) sudah banyak ditinggalkan dan tidak lagi menjadi faktor dalam dunia pendidikankita. Umumnya, kita loncat ke proses pembelajaran (taklim). Padahal, Alquran mengingatkan kita perlunya mendahulukan tadzkiyah sebelum taklim.
Bahkan, salah satu ayat yang sering dipasang di punggung Alquran, "La yamassuhu illal muthahharun." (Tidak ada yang menyentuhnya [Alquran], selain hamba-hamba yang disucikan). (QS al-Hadid [57] 79). Di sisi lain, pengetahuan makrifat itu sendiri bertingkat-tingkat. Dimulai dari yang paling sederhana, yaitu mengenal makhluk-makhluk fisik Allah SWT.
Dari sini, ilmu menjadi bagian dari makrifat. Pengetahuan makrifat juga mencakup upaya mengenal makhluk-makhluk metafisik-spiritual, dan pada puncaknya mengenal Sang Pencipta dalam hubungannya dengan makhluknya. Tentu saja  dari setiap jenjang makrifat itu membutuhkan metodologinya sendiri.
Guru atau mursyid juga bertingkat-tingkat, mulai dari mursyid biasa hingga wali, bahkan Nabi Muhammad secara langsung. Tidak masalah, apakah orang itu masih hidup atau sudah tiada. Faktanya, banyak sekali di antara para arifin, gurunya adalah orang yang sudah di alam lain . Tidak heran kalau di antara mereka ada yang mengatakan "Alangkah miskinnya seorang murid jika para gurunya hanya orang-orang hidup".

Tarekat adalah Benteng Terakhir Nahdatul Ulama


KH Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya atau yang akrab disapa Habib Luthfi adalah pemimpin perkumpulan tarekat dalam Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (Jatman) saat ini

MEREKA yang belajar thariqah(Tarekat Mu'thabaroh) secara sungguh-sungguh dan istiqomah serta penuh khidmat kepada Guru Mursyidnya, maka hatinya akan bersih. Kejujuran selalu mengemuka. Setiap tutur kata yang keluar dari mulut disertai kesantunan. Tak ada niat buruk apalagi menyakiti.
Kemunculan thariqah, dikutip dari profil thariqah An-Nahdliyah, mulai ada sejak zaman Nabi Muhammad. Segala perilaku kehidupan nabi saat itu menjadi dasar praktik kehidupan rohani para pengamal thariqah. Turun temurun dilakukan hingga sekarang ini. An-Nahdliyah merupakan badan otonom Nahdatul Ulama (NU) di Kaltim.Thariqah atau tarekat hakekatnya merupakan ilmu untuk mengetahui hal ihwalnya nafsu dan sifat-sifatnya. Mana yang tercela kemudian dijauhi dan ditinggalkan. Mana yang terpuji kemudian diamalkan. Dalam pengertian lain, tarekat adalah laku tertentu bagi seseorang untuk menempuh jalan menuju Tuhan.
Menapaki setapak demi setapak dan naik ke tempat-tempat mulia.Di 1957, Nahdatul Ulama membentuk organisasi tarekat di Magelang, Jawa Tengah. Tokoh pendirinya antara lain KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri, KH Idham Cholid, KH Masykur, KH Muslih, dan KH Nawawi. Saat itu ilmu tarekat sudah ada dan alirannya telah berkembang. Di Indonesia, tarekat sudah ada sejak penyebaran Islam oleh Wali Sanga. Hingga kini telah berkembang menjadi 43 aliran.
“Kalau dijelaskan kapan tarekat masuk ke Indonesia, ya sejak Islam masuk, yang membawanya Wali Sanga. Sedangkan untuk organisasinya di Kaltim baru masuk pada tahun 1980-an. Fungsi organisasinya yakni menghimpun, membina, dan mengorganisasi aliran-aliran yang ada ini,” tutur Syahruddin Tarmidji, Ketua Thariqah An-Nahdliyah, kepada Kaltim Post, Jumat (10/8) lalu.
Untuk di Kaltim, kata Syahruddin, sedikitnya ada delapan aliran tarekat. Tersebar di seluruh kabupaten/kota. 
 
Tarekat Naqsyabandiah merupakan aliran yang paling luas penyebarannya. Selain itu ada tarekat Qodiriah. Kemudian ada penggabungannya yakni tarekat Qodiriah wa Naqsabandiyah. Masing-masing memiliki amalan tersendiri dari para gurunya.
“Masih banyak lagi aliran tarekat. Tarekat sendiri bukan organisasi. Tetapi berupa paguyuban bahkan perorangan. Semua berdasarkan apa yang diajarkan rasul Muhammad. Mereka yang ingin masuk ke tarekat harus melalui baiat,” ujarnya.
 
Baiat dijelaskan Syahruddin dalam arti sebuah janji dan komitmen. Seseorang yang masuk tarekat harus mampu melaksakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Salat lima waktu dan berpuasa adalah hal yang pokok.
 
“Akhirnya, karena hanya ikut-ikutan saja, banyak sempalan-sempalan. Merasa kalau sudah dibaiat itu tidak perlu lagi salat. Hanya mengincar keuntungan pribadi. Misal harus membayar ketika dibaiat. Padahal tidak ada yang namanya membayar kalau mau masuk tarekat,” tuturnya.
 
Kata Syahruddin, sempalan-sempalan ini yang membahayakan masyarakat. Padahal tujuan tarekat sendiri untuk membersihkan hati pada diri seseorang. Sehingga dalam setiap perkataan dan perilakunya harus sesuai dengan apa yang diamalkan Nabi Muhammad.
 
“Banyak yang menganggap kalau masuk tarekat sudah dijamin masuk surga. Wah, kacau kalau begitu,” lanjutnya.
Pengaruh tarekat di Kaltim sebutnya sudah menjadi hal yang luar biasa. Organisasi tarekat selama ini memang belum melakukan pendataan berapa jumlah pengikut mereka. Namun diperkirakan puluhan ribu orang, termasuk pejabat dan pengusaha kaya.
“Dahulu orang-orang berduit mencari ketenangan jiwa dengan cara jalan-jalan ke luar negeri. 
Ternyata jiwanya belum tenang. Lambat laun mereka pun sadar, dengan berzikir, salawat kepada nabi, bisa membantu ketenangan jiwa. Dari sini banyak golongan pejabat dan orang-orang itu yang mengamalkan amalan tarekat,” ujarnya.
Seseorang yang mampu mengamalkan ilmu tarekat tidak mencurigai seseorang tanpa dasar yang kuat. Kebenaran harus ada. Sehingga dampaknya ialah kedamaian. “Kalau semua orang mampu mengamalkannya, damailah dunia ini,” ujarnya.
Peran tarekat dalam sebuah masyarakat diungkapkan Syahruddin sungguh besar. Meski di Kaltim belum terlihat, namun secara tidak langsung mengubah cara hidup seseorang yang mengamalkannya. Lain halnya yang sudah dilakukan sebuah pondok pesantren yang ada di Jawa Barat*. Pesantren yang juga mengurus dan merehabilitasi para pecandu narkoba.(*Pesantren Suryalaya Tasikmalaya,Jawa Barat selaku pusat Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah PP.Suryalaya juga mengkoordinir bidang Inabah yaitu pondok yang dikhususkan untuk rehabilitasi pecandu Narkoba yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan beberapa provinsi serta di mancanegara yakni di Singapura dan Malaysia,ket. oleh dokumen pemuda tqn suryalaya)

“Saya pernah berkunjung dan menginap di sana. Melihat bagaimana narkoba benar-benar merusak generasi muda. Ini yang saat ini kami perjuangkan. Salah satunya melalui MUI (Majelis Ulama Indonesia),” ujarnya yang kini juga menjadi pengurus di MUI Kaltim.
Perkembangan tarekat di Kaltim ternyata banyak mengalami kendala. Salah satunya dan utama yakni faktor geografis. Jalan-jalan trans Kaltim yang rusak menjadikan mobilitas dalam penyebaran tarekat terhambat. Meski setiap kabupaten/kota hingga kecamatan, pengurusnya sudah terbentuk.
 
“Tarekat menjadi benteng terakhir di NU. Menjadi tempat pembentukan akhlak manusia. Jangan sampai generasi muda Indonesia rusak. Apalagi dalam perkembangan informasi yang terbuka dan bebas ini, remaja menjadi lebih berani dalam berbuat maksiat. Narkoba menjadi ancaman serius. Kalau tidak segera diberantas, maka 10 tahun lagi generasi muda bisa rusak. Padahal lewat mereka Indonesia bisa maju dan berkembang,” ungkapnya. (rdh/wan)

Ditulis ulang oleh Dokumen Pemuda TQN Suryalaya
Sumber : Kaltim Post http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=144272

SYARI'AT, THORIQAH, HAQIQAH, MA'RIFAT (Status : Ustadz Badru Zaman)


Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah-istilah agama yang kadang-kadang pengertian masyarakat masih rancu, istilah tersebut antara lain :Syariat Thariqah Haqiqah Marifah 

1. SYARIAT :
Adalah hukum Islam yaitu Al qur’an dan sunnah Nabawiyah / Al Hadist yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih, Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan atsar para shahabat ijma’ dan kiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat 62 madzhab fiqh yang dinyatakanmu’tabar (Shahih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqah dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah SWT, para malaikat, kitab kitab Allah, para Nabi dan Rasul, Hari Qiamat dan Taqdir.Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqamah berada dibawah panji Tauhidnya Rasulullah SWA dan Khulafa Ar Rasyidiin Al Mahdiyyin yang selanjutnya dikenal dengan Ahlu As Sunnah wal Jamaah. Sedangkan firqah / golongan lainnya dinyatakan sesat dan kafir. Jika tidak bertaubat maka mereka terancam masuk dalam neraka. Na’udzubillah.

2. THARIQAH :
Adalah jalan / cara / metode implementasi syariat. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariah itu hukum dan Thariqah itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.

THARIQAH ADA 2 (DUA) MACAM :Thariqah ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqaddam.

Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah as Sufiyah / Thariqah al Auliya’.Thariqah Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.

Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :
 Ø§Ù† شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا .(ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)
 “Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :
 Ø§Ù† شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )“Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)

Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?

Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah thariqah / mitode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah yang ada adalah thariqah mujahadah.

Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. (Adam shafiyullah, Ibrahim Khalilullah, Musa Kalimullah, Isa Ruhullah sedangkan Nabi Muhammad SAW Habibullah). Satu satunya thariqah yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thariqah At Tijany.

Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah dan dinyatakan Mu’ tabar (benar – sanadnya sambung sampai pada Baginda Rasulullah SAW), bisa dilihat di sini: NAMA-NAMA TAREKAT (THARIQAH) MU'THABAROH.

3. HAQIQAH

Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan batin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakekat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya selaku Al Kholiq Swt. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan.

Kebanyakan manusia beribadah bukan karena Allah SWT, tapi justru karena adanya target target hajat duniawi yang ingin mereka dapatkan, ada juga yang lebih baik sedikit niatnya, yaitu mereka yang mempunyai target hajat hajat ukhrawi (pahala akhirat) dengan kesenangan surgawi yang kekal.Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah SWT, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridhaan Tuhannya semata. Jadi tujuan mereka adalah Allah SWT bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.

4. Ma’rifah

Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Swt. ( wusul ilallah Swt). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah SWT. baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, Mereka bukan hanya ingin Allah SWT dengan Ampunan dan keridhaanNYa, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Al Khaliq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.

(syariah dan Thariqah) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (talim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thariqah. Sedangkan Haqiqah dan ma’rifah pada prinsipnya tidak bisa dipelajarisebagai mana Syariah dan Thariqah karena sudah menyangkut Dzauqiyah.

Haqiqah dan ma’rifah lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqamah) mempelajari dan menggali kandungan syariah dan mengamalkanya dengan ikhlash semata mata karena ingin mendapatkan ridha dan ampunan serta cinta Allah SWT.Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syariah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thariqah. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thariqah ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thariqah khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqah dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahuisecara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifah.

(Dokumen No.401 di Facebook Pemuda TQN Suryalaya, dari berbagai sumber)

NAMA-NAMA TAREKAT MU'TABAROH


Jamiah Ahlu Thariqoh Mu'tabaroh Annahdliyah by www.dokumenpemudatqn.com,tarekat,islam,muslim,suryalaya
(JATMAN)
Berikut Nama-nama Tarekat/Thoriqoh Mu'tabaroh NAHDLIYYAH :
1.       Rumiyyah                               
2.       Rifaiyyah                                
3.       Sa’diyyah                               
4.       Bakriyyah                               
5.       Justiyyah                                 
6.       Umariyyah                             
7.       Alawiyyah                              
8.       Abasiyyah
9.       Zainiyyah
10.   Dasuqiyyah
11.   Akbariyyah
12.   Bayumiyyah
13.   Malamiyyah
14.   Ghoibiyyah
15.   Tijaniyyah
16.   Uwaisiyyah
17.   Idrisiyyah
18.   Samaniyyah
19.   Buhuriyyah
20.   Usyaqiyyah
21.   Kubrowiyyah
22.   Maulawiyyah
23.   Jalwatiyyah
24.   Baerumiyyah
25.   Ghozaliyyah
26.   Hamzawiyyah
27.   Haddadiyyah
28.   Matbuliyyah
29.   Sumbuliyyah
30.   ‘Idrusiyyah
31.   Utsmaniyyah
32.   Syadliliyyah
33.   Sya’baniyyah
34.   Kalsyaniyyah
35.   Khodliriyyah
36.   Syathoriyyah
37.   Khalwatiyyah
38.   Bakdasiyyah
39.   Syuhrowardiyyah
40.   Thoriqoh Ahmadiyyah
41.   ‘Isawiyyah Ghorbiyyah
42.   Turuqi Akabiril – Auliyyak
43.   Qodiriyyah wa-Naqsyabandiyyah
44.   Kholidiyyah wa-Naqsyabandiyyah
45.   Haqqaniah wa Naqsyabandiyah
46.   Ahli Muzalamatil-Qur’an was-SunnahWadaailil Khoiroti Wata’limi-Fathil Qoribi Au-Kifayatul-Awami.

Keterangan
Nama-nama Thoriqoh yang terdapat dalam kitab ini antara lain :
1.       Ar-Rosyahat
2.       An-Nafahat
3.       At-Tajiyah
4.       Al-Khodimi
5.       Al-Khitoob
6.       Al-Ghunbah
7.       Al-Manaqib
8.       Bahjatul Asror
9.       Nadhatul-Qudsi
10.   Futuhatul-Ghoib
11.   Qolaidul Jawahir
12.   Miftahul-Ma’iyyah
13.   Al-Ghautsiyah
14.   Ar-Risalatul Qudsiyah
15.   Maktubatul-Imam Ar-Robbani
16.   Majmu’aturrosail ‘ala Ushulil-Kholidiyah
17.   Dan lain-lain
Nama-nama Thoriqoh tersebut dinamakan Mu’tabaroh, sebab muttashil (tersambung) sanaduha bi Rosulillah SAW. Dan ajarannya diatur dalam kitab masing-masing.

(sumber : Jatman)

Seni Menjadi Pedagang Online 336x280
Dapet Duit Dari Twitter 486x60